Sampah dan dampaknya terhadap lingkungan telah menjadi isu yang serius di banyak kota, termasuk dan terutama di Jakarta. Beruntunglah ada sebagian pihak yang telah menyadari bahwa sampah dapat dijadikan obyek kreativitas yang tidak hanya membantu memecahkan masalah lingkungan, tetapi juga berbagai masalah sosial seperti kemiskinan, sebagaimana yang dipraktekkan oleh sekelompok anak muda yang mencoba mengkomunikasikannya kepada masyarakat pada suatu acara kolaborasi Jepang - Indonesia baru-baru ini.
Pada suatu Minggu yang cerah dan panas di akhir September 2011 lalu, ribuan pengunjung yang sebagian besar adalah kaum muda Indonesia penggemar serba-serbi Jepang memadati lapangan Monumen Nasional (MONAS), tempat diadakannya acara "JAK-JAPAN Matsuri 2011," sebuah festival tahunan yang bertujuan mempererat persahabatan antara masyarakat Jepang dan Indonesia. Tahun ini, festival tersebut mengusung tema "Terima Kasih Indonesia" sebagai ungkapan rasa syukur atas solidaritas dan bantuan yang diberikan oleh masyarakat Indonesia kepada masyarakat Jepang selama masa berat paska gempa dan tsunami di timur laut Jepang pada Maret 2011. Berbagai organisasi, perusahaan, dan kelompok masyarakat turut berpartisipasi dalam acara yang berisikan berbagai pertunjukan seni-budaya, pameran, dan juga jajanan khas Jepang.
Di antara deretan stan pameran, terlihatlah beberapa orang tengah asyik duduk di karpet rotan sambil sibuk mengerjakan kerajinan tangan. Pemandangan tersebut merupakan sesuatu yang unik sebagai stan JICA pada umumnya. Bila tahun lalu lebih difokuskan pada pemberian informasi melalui kuis yang menggambarkan prasarana dan sarana umum di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (JABODETABEK) yang merupakan produk kerjasama Indonesia-Jepang, pada partisipasi yang ketiga kali ini kami juga mengadakan kuis serupa, namun dengan kombinasi dengan suatu ‘bengkel’ kerajinan tangan. Keunikan yang paling utama bila dibandingkan dengan ‘bengkel’ lainnya adalah bahwa para pelatihnya merupakan mantan anak jalanan, sementara bahan yang digunakan untuk kerajinan tangan tersebut semuanya berasal dari sampah, baik alami (pelepah pohon pisang, rumput halaman, eceng gondok) maupun hasil olahan (kertas bekas, surat kabar).
[‘Bengkel’ Kerajinan Tangan] Siapa saja dapat melakukannya, tua dan muda, selama didampingi oleh mentor yang baik.
[Program Kuis] Para pengunjung mengantri untuk uji pengetahuan mengenai sarana dan prasarana di JABODETABEK.
Dalam upaya menciptakan ruang yang mendidik sekaligus menyenangkan pada "JAK-JAPAN Matsuri 2011," JICA bekerjasama dengan Yayasan KUMALA dalam mengadakan ‘bengkel’ kerajinan ini. Setiap orang yang tertarik – bahkan pemula yang belum pernah membuat kerajinan tangan sebelumnya - berkesempatan untuk mencoba merangkai produk, seperti bingkai foto dan kotak perhiasan, menggunakan pola setengah jadi dengan kombinasi warna sesuai pilihan masing-masing. Semua bahan untuk pola dan kertas dikumpulkan dan diproses oleh personil KUMALA sendiri. Meskipun tampaknya lebih sulit dari yang diperkirakan awal, semua orang ternyata dapat menyelesaikan produk pilihannya dalam waktu kurang dari satu jam, tentunya dengan bimbingan dari para pelatih.
Para pelatih tersebut memiliki sejarah yang khusus dengan JICA. Pada masa remajanya, mereka pada dasarnya kaum muda dengan latar belakang berbeda-beda dan kebanyakan dari mereka hidup di jalanan kota Jakarta. Oleh Yayasan SEKAR, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berpusat di Jakarta, mereka dipandu dan dibekali dengan keterampilan seperti seni kertas dari daur ulang sampah sebagai salah satu pilihan hidup sehingga tidak perlu mengemis di jalanan. Kegiatan tersebut dilakukan atas kerjasama SEKAR dengan JICA dalam skema program pemberdayaan masyarakat (CEP). Tidak hanya berkembang dan menjadi terampil, para mantan anak jalanan itu kini bahkan telah mendirikan LSM sendiri bernama Yayasan KUMALA dan memberikan pelatihan kepada orang lain, terutama kaum berlatar-belakang ekonomi lemah dan rentan seperti pemuda pengangguran dan ibu rumah tangga.
‘Bengkel’ kerajinan tersebut diselenggarakan secara bergantian dengan program kuis. Setiap sesi selalu dipenuhi pengunjung. Tua maupun muda, Indonesia maupun Jepang, duduk di bawah tenda dan dengan antusias mengikuti arahan para pelatih sambil mempraktekkannya sendiri tanpa memperdulikan sengatan panas matahari. Bahasa antara pelatih Indonesia dan beberapa peserta Jepang pun sepertinya tidak menjadi kendala utama.
[‘Bengkel’ Kerajinan Tangan] Kaum muda Jepang pun tertarik untuk mempelajari cara membuat produk kerajinan tangan
[Program Kuis] Para pengunjung masih terlihat menumpuk di dalam stan JICA meskipun suasana di luar sudah mulai gelap
Tidak ada angka resmi berapa jumlah orang yang mengunjungi stan kami pada hari itu, namun intensitas interaksi di dalamnya dapat diukur dari cepat berkurangnya materi publikasi dan informasi yang diperuntukkan bagi para pengunjung. Selain dari kuis yang diselenggarakan, sejumlah pengunjung juga tertarik dengan produk kerajinan tangan KUMALA lainnya yang dipamerkan di sana, antara lain tas kertas, kotak tisu, tempat pensil, atau kertas kado berwarna-warni yang terbuat dari bahan kombinasi seperti kulit bawang yang dikeringkan dan kertas bekas.
[Pameran Kerajinan Tangan] Produk-produk ini seluruhnya terbuat dari sampah alami dan buatan
Diharapkan bahwa kolaborasi pada pameran tersebut akan membawa hasil yang positif; memperkokoh hubungan yang saling menguntungkan serta kemitraan antara JICA dengan LSM lokal yang lebih “bersahaja,” suatu sisi yang jarang diketahui, khususnya sebagai suatu organisasi kerjasama bilateral pemerintah Jepang. Melalui kegiatan ini, ingin juga ditunjukkan kepada masyarakat luas bahwa para anak jalanan dan sampah (baik alami maupun olahan) dapat menjadi aset yang berharga bagi masyarakat.
SELESAI
2011-10-28